Monday, July 23, 2012

Penyebab seseorang mempunyai sifat sombong

Assalamualaikum teman-teman, senang rasanya menyapa kalian semua di malam ramadhan yang penuh berkah ini. di note ini saya mau bercerita tentang pengamatan saya selama ini mengenai kesombongan yang dimiliki seseorang. Pernahkah teman-teman bertemu orang sombong? mengenai apa saja, dimulai dari sombong harta, pangkat, kepintaran, sampai pada sombong terhadap imannya, Naudzubillah min dzalik. Tapi, pernahkah teman-teman menyadari bahwa kita juga pernah bersikap yang sama, yaitu sombong. Mudah-mudahan Allah senantiasa melindungi kita dari sifat-sifat syaitan yang demikian. Amiin.

Tapi tenang saja teman-teman, seperti kata-kata guru saya "jika saja kita mengetahui akar suatu masalah, kita pasti bisa mengatasi masalah tersebut." Dan, aku berpikir tentang kebiasaan buruk orang tua akhir-akhir ini yaitu memberitahu anaknya dengan kata-kata yang keliru. Misalnya saja, anaknya yang sedang bermain dan lupa waktu, orang tuanya malah menegur mereka dengan berkata "main saja sana terus, sampai malam sekalian gak usah pulang!." Jika saja anaknya tidak cerdas, ia pasti malah terus bermain sampai malam. Tapi, karena ia mengetahui maksud orang tuanya yang sebaliknya, anak itu akan masuk rumah dan melakukan yang sebaliknya dikatakan orang tuanya.

Kemudian, saat orang tua tersebut membanding-bandingkan anaknya dengan anak orang lain yang mungkin hanya mempunyai satu kelebihan dibandingkan anaknya dengan sangat berlebihan, dengan alasan ingin anaknya lebih baik. Coba teman-teman pikir ulang, dan menempatkan diri teman-teman sebagai keduanya? Sebagai anak, pasti akan merasa kesal dan membuktikan bahwa dia lah yang lebih dibandingkan anak yang lain tersebut. Sebagai orang tua, mungkin akan melakukan cara tersebut diluar kesadaran karena orang tua mereka juga mendidik mereka dengan cara seperti itu. Lalu lingkaran masalah ini seperti tidak ada habisnya.

Melihat contoh kehidupan sehari-hari seperti diatas yang tidak jarang kita temukan dilingkungan sekitar kita, apa teman-teman sadari? ya benar, kebiasaan buruk kita sebagai manusia yang suka membanding-bandingkan kelebihan orang lain terhadap orang terdekat kita lah yang menyebabkan munculnya sifat sombong pada diri kita. Logikanya, jika orang tua membanding-bandingkan anaknya sendiri dengan anak yang lain, anak itu akan otomatis akan bersikeras membela dirinya, menyebutkan dan mencari-cari kelebihan dirinya terhadap anak yang lain tersebut. Yang jika kebiasaan ini dibiarkan tumbuh bersamanya, ia akan tumbuh dengan kesombongan bahwa dialah yang terbaik, dan tidak ada orang lain yang boleh melebihi dirinya, dia akan bermulut besar mengenai keangkuhannya terhadap orang lain.

Tapi teman-teman, walaupun demikian, sebenarnya ia memiliki kepedihan di dalam hatinya. Tanpa disadari, semakin banyak dia menyebarkan keangkuhannya, ia pun akan merasa semakin takut dirinya tersaingi. Cara yang menurut penulis ampuh untuk mengatasi masalah tersebut adalah terus mendekatinya dan berprilaku baik terhadapnya apapun yang terjadi sampai luluh hatinya, dan sadar akan perbuatan buruknya. Kemudian, supaya lingkaran kepedihan ini tidak diwarisi oleh anak cucu kita, ada baiknya kita sama-sama menyadari bahwa sifat sombong bukan lah lahir dari kepribadian seseorang sejak lahir, tapi sifat yang lahir dari kebiasaan buruk kita sebagai manusia yang tak luput dari kesalahan.

Akhir kata, penulis ingin sama-sama mengajak teman-teman semua, yuk kita saling mengingatkan dan menyebarkan nasihat-nasihat baik. Mari kita sama-sama menjauhkan diri dari kebiasaan-kebiasaan yang menyebabkan sifat sombong tersebut. Kalau tidak dimulai dari kita generasi-generasi muda, lalu siapa lagi? penulis juga tidak mau dengan tulisan ini kita sampai menyebabkan perselisihan dengan orang lain yang sedang keliru mengenai kebiasaan ini. Guru penulis pernah berkata, "seseorang sejatinya ingin menuju jalan kebenaran, tidak ada yang salah hanya mereka mungkin sedang keliru." Marilah juga kita sebagai manusia sama-sama lebih meningkatkan kasih sayang kita terhadap sesama, kalau bukan kita sebagai temannya, siapa lagi yang akan peduli dengan teman kita? kalau bukan kita sebagai orang tuanya, siapa lagi yang akan peduli dengan anak kita?

Semoga tulisan ini bermanfaat, Wassalamualaikum. Selamat malam semuanyaa. :)

No comments:

Post a Comment